Desa Wisata Adalah laboratorium Nyata Bagi Penerapan Ilmu Kepariwisataan Yang Lebih Komprehensif dan Multidisiplin
Oleh: Ahmad Nizar
Perkembangan desa wisata di Indonesia terus menunjukkan tren yang positif seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman autentik yang mengedepankan budaya lokal, kehidupan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Di balik perkembangan tersebut, para praktisi menilai bahwa pengelolaan desa wisata tidak lagi cukup hanya mengandalkan keahlian di bidang pariwisata semata, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dan multidisiplin.
Desa wisata merupakan salah satu bentuk pengembangan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada keberadaan suatu objek atau daya tarik wisata, tetapi juga pada keseluruhan sistem kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari destinasi tersebut.
Berbeda dengan pengelolaan objek wisata yang umumnya berfokus pada atraksi, fasilitas, dan pelayanan kepada wisatawan, desa wisata mencakup pengelolaan sebuah ekosistem yang melibatkan masyarakat, budaya, lingkungan, ekonomi, hingga tata kelola kelembagaan. Kompleksitas tersebut menjadikan desa wisata sebagai ruang implementasi berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi.
Praktisi pariwisata asal Sulawesi Tenggara , Ahmad Nizar menjelaskan bahwa keberhasilan desa wisata tidak dapat diukur hanya dari jumlah kunjungan wisatawan. Menurutnya, aspek keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat justru menjadi indikator yang lebih penting.
“Mengelola desa wisata jauh lebih kompleks dibandingkan mengelola sebuah objek wisata. Jika objek wisata lebih berorientasi pada pengembangan daya tarik dan pengalaman pengunjung, maka desa wisata mengharuskan kita memahami karakter masyarakat, budaya lokal, potensi ekonomi, konservasi lingkungan, hingga tata kelola kelembagaan desa. Disinilah keilmuan kepariwisataan diuji secara lebih komprehensif karena harus mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan desa wisata memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengembangan destinasi tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan identitas budaya dan kualitas lingkungan desa.
Menurut Nizar, tantangan terbesar dalam pengembangan desa wisata bukanlah membangun infrastruktur, melainkan membangun kapasitas sumber daya manusia.
Masyarakat perlu memiliki kemampuan dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan, mengelola usaha, menciptakan dan memasarkan produk lokal, memanfaatkan teknologi digital, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi daya tarik utama desa.
“Desa wisata bukan sekadar menjual panorama alam atau atraksi budaya. Yang dijual adalah kehidupan masyarakat itu sendiri. Karena itu, pengembangannya harus dilakukan secara hati-hati agar aktivitas pariwisata tidak mengubah jati diri masyarakat, tetapi justru memperkuat identitas lokal dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” tambahnya.
Sejumlah akademisi juga menilai bahwa desa wisata telah menjadi laboratorium nyata bagi penerapan ilmu kepariwisataan. Pengelola dituntut mampu mengintegrasikan pendekatan manajemen destinasi, pemasaran, ekonomi kreatif, sosiologi, antropologi, konservasi lingkungan, hingga tata ruang dalam satu sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Dengan semakin berkembangnya desa wisata di berbagai daerah, kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi multidisiplin diperkirakan akan terus meningkat. Pengembangan desa wisata pun diharapkan tidak hanya menghasilkan destinasi yang menarik bagi wisatawan, tetapi juga mampu menjadi instrumen pembangunan daerah yang memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan budaya, dan menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Dengan pengalaman sejak 2018 melakoni pendampingan mandiri sejumlah Desa Wisata di Sulawesi Tenggara Ahmad Nizar pun mengakui perjuangan disetiap desa memiliki karakteristik persoalan yang juga beragam. Justru menurut Nizar sesuai pengalamn dirinya, daya Tarik wisata menjadi urusan ke sekian dan lebih banyak menghabiskan energi di persoalan fundamental yang ditemukan di setiap desa yang didampingi.
Dirinya terlibat langsung di sejumlah studi kasus atau persoalan lapangan yang terjadi. Patut diapresiasi sejumlah prestasi nasional yang diraih beberapa desa wisata di Sultra seperti Desa Wisata Sumber Sari Air Terjun Moramo, Desa Wisata Sani Sani, Desa Wisata Labengki, hingga Desa Wisata NAMU, sedikit banyak ada peran Ahmad Nizar didalamnya dalam sisi penguatan kapasitas dan strategi pengmbangan kawasan Desa Wisata.
Nizar saat ini masih aktif mendampingi Desa Wisata Namu, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, berkat konsistensi pendampingan selama 3 tahun membuahkan hasil membawa Desa Wisata Namu menjadi salah satu Jawara nasional Desa Wisata Terbaik di ajang Wonderfull Indonesia Award 2025.
Tidak ketinggalan sejumlah prestasi Tingkat Provinsi Sultra maupun Nasional bidang pariwisata telah diraihnya diantaranya The Best Performance IHSA 2025 tingkat nasional, Masuk dalam 50 Tokoh Pejuang Pariwisata Nasional di Ajang Wonderful Indonesia Award 2026, dan masuk dalam 20 Tokoh Penggerak Desa Wisata Sultra 2025. Secara kompetensi dirinya pun telah mencapai level Assessor Kepariwisataan sejak 2015, Service Trainer bidang Homestay, hingga lulus TOT Kepariwisataan Level IV. (*)


























