Kendari – Dunia akademik Sulawesi Tenggara tidak asing dengan nama Prof. Dr. Baru Sadarun, S.Pi., M.Si. Sosok guru besar di bidang ilmu kelautan ini dikenal luas sebagai akademisi, peneliti, sekaligus inovator yang telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kelautan dan pesisir.
Lahir di Raha, Sulawesi Tenggara, Prof. Baru Sadarun meniti karier akademik dengan dedikasi yang konsisten. Kiprahnya tidak hanya di lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO), tetapi juga menjangkau tingkat nasional hingga internasional melalui berbagai penelitian, publikasi ilmiah, kerja sama akademik, dan kontribusi dalam penyusunan kebijakan pembangunan berbasis sumber daya kelautan.
Selama berkarier di UHO, ia dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Ketua Jurusan Ilmu Kelautan. Pengalaman tersebut membentuknya sebagai pemimpin akademik yang memahami tata kelola perguruan tinggi sekaligus kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang mampu bersaing di era global.
Di bidang penelitian, Prof. Baru Sadarun dikenal sebagai salah satu ilmuwan Indonesia yang aktif menghasilkan publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi internasional. Berbagai risetnya mengangkat isu konservasi ekosistem pesisir, transplantasi terumbu karang, restorasi lingkungan laut, hingga pemanfaatan organisme laut, termasuk spons laut, yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku di bidang kesehatan dan farmasi.
Konsistensinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan membawanya memperoleh berbagai penghargaan bergengsi. Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah pengakuan dari UNESCO melalui program Man and the Biosphere (MAB) atas dedikasi dan kontribusinya dalam penelitian lingkungan dan konservasi. Ia juga pernah menerima penghargaan sebagai Peneliti Muda Terbaik Bidang Penyelamatan Lingkungan dari LIPI, yang kini telah menjadi bagian dari BRIN.
Di kalangan akademisi kelautan, Prof. Baru Sadarun juga dikenal sebagai salah satu pionir pengembangan teknik transplantasi terumbu karang di Indonesia. Berbagai inovasi yang dihasilkannya telah memberikan kontribusi terhadap upaya rehabilitasi ekosistem laut sekaligus memperkuat konsep pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir.
Selain aktif sebagai peneliti, Prof. Baru Sadarun juga dipercaya menjadi tenaga ahli pada sejumlah kementerian. Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya dalam melihat peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya kebijakan berbasis riset yang mampu menjawab berbagai persoalan pembangunan.
Berbekal pengalaman akademik, kepemimpinan, serta jejaring nasional dan internasional, Prof. Baru Sadarun kini maju sebagai Bakal Calon Rektor Universitas Halu Oleo periode 2026–2030 dengan membawa visi besar “UHO 2030: Menjadikan Universitas Halu Oleo sebagai universitas inovatif berkelas dunia yang berakar pada karakteristik dan kearifan lokal, bergerak secara global, serta menjadi katalis kemajuan Sulawesi Tenggara.”
Visi tersebut diwujudkan melalui semangat “UHO KEREN: Bergerak, Bertumbuh, Berdampak.” Menurutnya, transformasi perguruan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan peringkat atau akreditasi, tetapi harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, dunia usaha, pemerintah, serta pembangunan daerah.
Sebagai langkah konkret, Prof. Baru Sadarun menawarkan tiga program unggulan yang menjadi fondasi transformasi UHO menuju kampus berkelas dunia.
Program pertama adalah pembangunan Digital and Smart Campus, yakni menciptakan ekosistem digital yang terintegrasi untuk mendukung tata kelola universitas yang lebih modern, efisien, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika.
Program kedua adalah penerapan AI Curriculum dan Hybrid Learning, yaitu penyesuaian kurikulum dengan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) serta model pembelajaran hibrida.
Menurutnya, lulusan UHO harus dibekali kompetensi digital dan kemampuan adaptif agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Program ketiga adalah pembentukan Agro-Marine Research Center, pusat riset unggulan yang memanfaatkan potensi kelautan dan pesisir Sulawesi Tenggara sebagai laboratorium hidup bertaraf internasional.
Pusat riset tersebut dirancang menjadi ruang kolaborasi ilmuwan Indonesia dan dunia untuk mengembangkan penelitian konservasi laut, rehabilitasi terumbu karang, pengelolaan kawasan pesisir, ekonomi biru (blue economy), hingga pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) dalam pemantauan ekosistem laut secara real time.
Tidak berhenti pada publikasi ilmiah, hasil penelitian dari pusat riset tersebut diarahkan agar mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, mendukung ketahanan pangan, memperkuat sektor perikanan, serta menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan maritim di Sulawesi Tenggara.
Di bidang riset, Prof. Baru Sadarun juga berkomitmen memperkuat budaya penelitian di lingkungan UHO. Salah satu gagasannya adalah menyediakan dukungan pendanaan penelitian hingga Rp100 juta per tahun bagi setiap profesor, sehingga para akademisi memiliki ruang yang lebih luas untuk menghasilkan inovasi, memperkuat kolaborasi internasional, dan meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi global.
Menurutnya, investasi pada riset merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan daya saing universitas sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Melalui pengalaman panjang sebagai akademisi, peneliti, dan pemimpin di lingkungan perguruan tinggi, Prof. Baru Sadarun optimistis Universitas Halu Oleo memiliki modal besar untuk menjadi universitas yang tidak hanya unggul di Indonesia, tetapi juga diperhitungkan di tingkat dunia.
Dengan semangat “UHO KEREN: Bergerak, Bertumbuh, Berdampak,” ia mengajak seluruh sivitas akademika membangun budaya kolaborasi, inovasi, dan integritas untuk menjadikan Universitas Halu Oleo sebagai kampus yang melahirkan sumber daya manusia unggul, riset berkualitas, serta inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi kemajuan Sulawesi Tenggara, Indonesia, dan dunia. (HenQ)

























