Kendari – Buku Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi karya Rasmin Jaya kembali dicetak untuk edisi kedua. Pencetakan ulang tersebut dilakukan setelah cetakan pertama habis dan adanya permintaan dari sejumlah pembaca serta pegiat literasi.
Rasmin Jaya mengatakan, pada cetakan pertama, bukunya telah didistribusikan kepada sejumlah mahasiswa dan masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Muna Barat. Permintaan dari pembaca lainnya kemudian mendorong dirinya untuk kembali mencetak buku tersebut.
“Setelah cetakan pertama habis dan telah didistribusikan di beberapa mahasiswa dan desa di Muna Barat, buku ini kembali dicetak untuk menindaklanjuti beberapa permintaan pembaca yang lain,” ujar Rasmin.
Ia menjelaskan, buku tersebut berisi kumpulan esai yang merupakan rekaman perjalanan advokasi, pergerakan, dan perjuangannya dalam melihat berbagai fenomena sosial.
Sejumlah persoalan yang diangkat antara lain berkaitan dengan sosial politik, demokrasi, pendidikan, serta dinamika masyarakat di tengah perubahan zaman.
Menurut Rasmin, menulis menjadi salah satu cara untuk merangkai berbagai pengalaman dan peristiwa yang ditemuinya dalam perjalanan kehidupan maupun aktivitasnya sebagai aktivis dan pegiat literasi.
“Menulis menjadi cara saya merangkai potongan-potongan itu, menemukan keterkaitan antara pengalaman pribadi dan peristiwa eksternal, serta menjaga agar pertanyaan tetap hidup. Setiap kali saya merasa menemukan jawaban, selalu ada sudut pandang lain yang menantang,” katanya.
Rasmin menyebut, buku tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan jawaban yang bersifat final terhadap berbagai persoalan. Sebaliknya, tulisan-tulisan di dalamnya menjadi ruang untuk mempertemukan konsep dengan kenyataan, bacaan dengan pengalaman, sekaligus membuka ruang bagi munculnya pertanyaan-pertanyaan baru.
Ia memandang ketidaktuntasan sebagai bagian dari proses memahami berbagai persoalan. Karena itu, menulis baginya merupakan cara untuk menjaga percakapan dengan dunia yang terus berubah, termasuk dengan berbagai pengalaman dan cerita yang ditemuinya.
“Mungkin hanya dalam menulis saya tidak merasa perlu menyingkirkan keraguan dan ketidakpastian. Justru dengan melihatnya dari sudut pandang yang lebih terbuka, saya menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada kepastian, yakni keberanian untuk terus mencari dan keterbukaan untuk terus belajar,” ungkapnya.
Sebelumnya, buku Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi juga telah diberitakan oleh media Kendari Kita. Buku perdana Rasmin tersebut lahir dari kegelisahannya melihat dinamika sosial, kebijakan pemerintah, perkembangan demokrasi, pendidikan, serta tantangan teknologi terhadap budaya literasi.
Rasmin yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO) dan aktivis GMNI Sulawesi Tenggara mengatakan, proses penulisan buku tersebut berlangsung di tengah aktivitas akademik dan pergerakannya sebagai aktivis.
Baginya, aktivitas literasi memiliki peran penting dalam membantu seseorang memahami berbagai fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya. Ia bahkan menganalogikan literasi sebagai nutrisi bagi otak.
“Mengurangi aktivitas literasi sama saja dengan mengurangi gizi otak, yang berisiko menimbulkan kelumpuhan dalam memahami fenomena sosial,” katanya.
Buku tersebut memuat 230 halaman dengan ukuran 13,5 x 20 sentimeter. Buku ini ditulis oleh Rasmin Jaya, diedit Nurlailatul Qadriani, serta desain dan layout oleh Andi Mallarangan.
Buku tersebut menggunakan jenis huruf Garamond 12 poin dan memiliki ISBN 978-623-676-32-1.
Rasmin berharap karyanya dapat menjadi ruang refleksi sekaligus bahan bacaan bagi masyarakat, mahasiswa, aktivis, maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap isu sosial, demokrasi, pendidikan dan perkembangan zaman.
Ia juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak bersikap apatis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa dan generasi muda memiliki tanggung jawab dalam perjalanan perubahan sosial dan perkembangan peradaban.
“Penulis tidak akan benar-benar mati meski raga telah dikuburkan, karena imajinasi pembaca akan selalu menghidupkannya,” tuturnya.
Rasmin menambahkan, menulis berarti bersedia menuangkan isi hati dan pikiran ke dalam karya yang kemudian dapat dibaca dan dimaknai oleh orang lain. Ia berharap Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi dapat menjadi salah satu karya yang ikut menjaga semangat literasi di tengah perubahan zaman.
Bagi masyarakat, mahasiswa, aktivis, maupun pegiat literasi yang ingin mendapatkan buku tersebut dapat menghubungi langsung penulis melalui WhatsApp 0852-9938-6610. (Redaksi)


























