Ekonomi Sultra Tumbuh 6,19 Persen, BI Prediksi Kinerja Triwulan III Kembali Menguat

0

KENDARI – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tenggara memprakirakan kinerja perekonomian Sultra pada Triwulan III 2026 terus mengalami penguatan.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Bincang Bersama Media Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara yang berlangsung di Kendari, Selasa (29/9/2026).

Penguatan ekonomi Sultra pada periode tersebut terutama ditopang oleh sektor pertanian, seiring membaiknya produksi padi dan meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP).

Kinerja sektor pertanian tersebut diprakirakan mampu mengimbangi normalisasi konsumsi rumah tangga serta perlambatan pada sejumlah sektor, seperti pertambangan, konstruksi, dan perdagangan.

Penguatan ekonomi pada Triwulan III 2026 melanjutkan kinerja positif pada Triwulan II 2026. Ekonomi Sultra pada periode tersebut tumbuh 6,19 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen (yoy).

Perkembangan kegiatan usaha juga menunjukkan perbaikan pada sejumlah sektor, khususnya pertanian, pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.

Pada sektor pertanian, pertumbuhan diprakirakan sejalan dengan bergesernya puncak masa panen ke periode pertengahan September hingga Oktober.

Sementara pada sektor pertambangan dan industri pengolahan, pertumbuhan didorong penerbitan serta revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) oleh Kementerian ESDM.

Sektor konstruksi juga menunjukkan peningkatan seiring dimulainya persiapan sejumlah proyek strategis dan kawasan industri di Kolaka. Aktivitas tersebut turut mendorong pemulihan perdagangan barang pendukung.

Dari sisi stabilitas harga, Sulawesi Tenggara mencatat deflasi pada Agustus 2026 sebesar 0,31 persen (mtm).
Deflasi tersebut sejalan dengan normalisasi harga pangan setelah masa panen serta terkendalinya harga energi dan transportasi.

Secara tahunan, inflasi Sultra tercatat sebesar 3,19 persen (yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen dan relatif lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,35 persen (yoy).

Secara bulanan, deflasi terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas, di antaranya tomat sebesar 0,08 persen, ikan layang 0,07 persen, serta kangkung dan bahan bakar rumah tangga masing-masing sebesar 0,04 persen.

Di sisi lain, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan inflasi, antara lain kacang panjang dan pendidikan tinggi masing-masing sebesar 0,03 persen serta angkutan laut sebesar 0,02 persen.

Pengendalian inflasi juga diperkuat melalui sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia dan berbagai instansi terkait.

Dalam Rakornas Tim Pengendalian Inflasi yang digelar 24 September 2026, sejumlah TPID di Sulawesi Tenggara mencatat prestasi.
TPID Kabupaten Kolaka Timur meraih Juara I TPID Berprestasi tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi. TPID Kabupaten Bombana meraih Juara II TPID Berprestasi tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi.

Sementara TPID Kota Baubau meraih Juara II TPID Berkinerja Terbaik tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi, sedangkan TPID Provinsi Sulawesi Tenggara meraih Juara III TPID Berkinerja Terbaik tingkat provinsi se-Sulawesi.

Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga, khususnya komoditas pangan, melalui sinergi dan inovasi pemerintah daerah bersama Bank Indonesia serta pemangku kepentingan lainnya.

Selain pertumbuhan ekonomi dan inflasi, perkembangan transaksi digital juga menunjukkan tren positif di Sulawesi Tenggara.

Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna QRIS di Sultra mencapai 373.622 pengguna, tumbuh 29,59 persen (yoy) dibandingkan Agustus 2025.

Dari sisi merchant, tercatat sebanyak 286.786 merchant, meningkat 32,02 persen (yoy) dan tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, nominal transaksi QRIS pada Agustus 2026 mencapai Rp617,12 miliar, dengan volume transaksi sebanyak 6,48 juta transaksi.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya akseptasi pembayaran digital di tengah masyarakat dan pelaku usaha di Sulawesi Tenggara.

Bank Indonesia bersama pemerintah daerah, perbankan, regulator, pelaku usaha dan komunitas terus memperkuat sinergi untuk memperluas penggunaan transaksi non-tunai.

Sejumlah program juga telah dilakukan, di antaranya Pekan QRIS Nasional, QRIS Jelajah Kuliner Sulawesi Tenggara, serta berbagai program kolaborasi lainnya.

Penguatan digitalisasi daerah juga dilakukan melalui High Level Meeting (HLM), rapat koordinasi, capacity building dan asistensi kepada pemerintah daerah.

QRIS Antarnegara Raih Pengakuan Global
Perkembangan QRIS juga semakin diperkuat dengan keberhasilan QRIS Antarnegara yang mendapat penghargaan 50-in-5 Awards 2026.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Bank Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat, pada 21 September 2026.

Penghargaan itu menjadi pengakuan terhadap perkembangan keterhubungan pembayaran digital lintas negara yang interoperable dan inklusif.

Sejak diimplementasikan pada 2022 hingga Juli 2026, transaksi QRIS Antarnegara oleh pengguna dari negara mitra di Indonesia mencapai 21 juta transaksi dengan nilai Rp5,90 triliun.

Sementara transaksi pengguna Indonesia di negara mitra mencapai 4,67 juta transaksi dengan nilai Rp1,73 triliun.

Pada Rakornas TPID dan TP2DD 24 September 2026, TP2DD Provinsi Sulawesi Tenggara juga meraih Juara III TP2DD Terbaik tingkat provinsi se-Sulawesi.

Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia Sultra juga menyampaikan perkembangan Forum Ekonomi Sulawesi Tenggara (FORKESTRA) 2026.

FORKESTRA menjadi wadah untuk mendiseminasikan hasil riset, membahas isu strategis dan menghimpun gagasan dari mahasiswa serta masyarakat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkualitas.

Tahun ini, FORKESTRA mengusung tema “Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Sulawesi Tenggara yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global”.

Lima subtema yang menjadi fokus meliputi hilirisasi dan ketahanan pangan, konektivitas wilayah, inovasi dan tata kelola, ekonomi inklusif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

FORKESTRA 2026 mencatat 964 pendaftar dan 405 opini yang masuk. Jumlah opini tersebut meningkat 33,2 persen dibandingkan 2025 yang tercatat sebanyak 304 opini.

Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak pendaftaran pada Juni, batas akhir pengumpulan dan penjurian pada Agustus, pengumuman finalis pada 18 September, hingga presentasi finalis pada 24 September 2026.

Puncak kegiatan berupa seminar nasional dijadwalkan berlangsung pada 5 Oktober 2026, menghadirkan Xaviera Putri dan ekonom nasional Irman Faiz, sekaligus dirangkaikan dengan pengumuman pemenang lomba opini.

Berbagai gagasan yang dihasilkan melalui FORKESTRA diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan, program pembangunan daerah serta mendorong kolaborasi riset dan inovasi untuk pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara yang inklusif dan berkelanjutan. (RLS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here