Kendari, trijayakendari.com — Pemerintah Kota Kendari terus memperkuat jejaring kerja sama strategis menjelang pelaksanaan UCLG ASPAC 2026. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui kegiatan Bilateral Meeting bersama The Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) yang berlangsung di Ruang Rapat Wali Kota Kendari, Rabu (6/5/2026).
Pertemuan bilateral yang diselenggarakan oleh Sekretariat UCLG bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) ini dihadiri langsung Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, didampingi Kepala Bappeda serta Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kendari.

Agenda pertemuan difokuskan pada diskusi strategis terkait isu pembangunan perkotaan berkelanjutan, potensi investasi daerah, serta peluang kolaborasi riset dan kebijakan pembangunan berbasis energi dan sumber daya alam.
Dalam sesi dialog dan tanya jawab, perwakilan PYC yang diwakili Manager of Event, Promotion and Publication Maria Pingkan Serafien serta Consultant Nita Wartini menggali berbagai potensi serta tantangan pembangunan Kota Kendari.
Wali Kota Kendari dalam paparannya menegaskan bahwa sejumlah isu perkotaan saat ini menjadi prioritas utama pemerintah daerah, khususnya penanganan banjir, pengelolaan air bersih melalui PDAM, serta penguatan sistem persampahan.
“Isu yang menjadi urgensi bagi kota kami saat ini adalah penanganan banjir, pengelolaan air minum, hingga persoalan persampahan. Namun di sisi lain, Kendari memiliki potensi besar dari sumber daya alam yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Wali Kota.
Ia juga menjelaskan bahwa Kota Kendari tengah mendorong pengembangan kawasan industri terpadu sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru daerah. Pemerintah Kota telah menyiapkan kawasan industri seluas kurang lebih 1.500 hektare yang saat ini masih dalam tahap penjajakan investasi.
Kawasan tersebut dikenal sebagai Kawasan Industri Terpadu Kendari (KITK) atau Kawasan Industri Kendari (KIK) yang berlokasi di wilayah Tondonggeu, Kecamatan Abeli dan Nambo. Kawasan ini telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi yang diproyeksikan mencapai Rp12 triliun.
Menurut Wali Kota, pengembangan kawasan industri tersebut diharapkan mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta memperkuat posisi Kendari sebagai kota pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.

Sementara itu, The Purnomo Yusgiantoro Center, melalui lembaga riset yang didirikannya pada 16 Juni 2016, mendorong lahirnya kebijakan strategis berbasis riset mendalam di bidang energi, sumber daya alam, dan pertahanan nasional guna mendukung daya saing global Indonesia.
Sebagai organisasi nirlaba independen berbasis think tank, PYC berperan dalam memberikan rekomendasi kebijakan yang berkelanjutan sekaligus menjembatani kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor industri.
Melalui pertemuan bilateral ini, Pemerintah Kota Kendari berharap tercipta peluang kerja sama yang lebih luas, baik dalam penguatan perencanaan pembangunan, pengelolaan energi berkelanjutan, maupun peningkatan kapasitas kota dalam menghadapi tantangan urbanisasi modern.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian diplomasi kota menjelang UCLG ASPAC 2026, yang menegaskan komitmen Kendari untuk tampil sebagai kota yang adaptif, berdaya saing, dan siap berkolaborasi di tingkat internasional.



























