Menutup Triwulan I 2026, Reklamasi PT GKP Pulihkan 23,75 Hektare Lahan Pascatambang di Konkep

0

KONAWE KEPULAUAN – Hingga Triwulan I tahun 2026, PT Gema Kreasi Perdana (GKP) telah merealisasikan reklamasi lahan pascatambang seluas 23,75 hektare di wilayah operasionalnya di Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep).

Capaian ini menjadi bagian dari progres berkelanjutan perusahaan dalam upaya pemulihan dan pengelolaan lingkungan pascatambang.

Praktik reklamasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada luasan lahan, tetapi juga pada kualitas ekosistem yang dibangun kembali.

Sepanjang periode tersebut, perusahaan tercatat telah menanam sebanyak 19.792 bibit pohon dengan komposisi tanaman lokal mencapai lebih dari 40 persen.

Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, menjelaskan bahwa capaian reklamasi hingga Triwulan I 2026 merupakan hasil perencanaan yang dilakukan secara bertahap, berkelanjutan, dan berbasis indikator terukur.

“Setiap kegiatan reklamasi dirancang dengan target yang jelas, mulai dari luasan lahan, jumlah dan komposisi tanaman, hingga tingkat keberhasilan tumbuh. Dengan pendekatan ini, kami memastikan pemulihan lahan pascatambang berjalan konsisten, bukan bersifat sporadis,” ujarnya.

Menurut Badrus, pendekatan berbasis data tersebut memungkinkan perusahaan terus meningkatkan kualitas reklamasi, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga efektivitas dalam memulihkan fungsi lingkungan.

“Progres yang dicapai saat ini merupakan bagian dari tahapan jangka panjang. Kami terus melakukan evaluasi berbasis data agar setiap area reklamasi dapat berkembang menuju kondisi ekosistem yang lebih stabil dan produktif,” tambahnya.

Penilaian positif terhadap upaya reklamasi PT GKP juga datang dari kalangan akademisi. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo (UHO) sekaligus Peneliti Biodiversitas Pulau Wawonii,

Prof. Faisal Danu Tuheteru, menilai perkembangan reklamasi perusahaan menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya melihat langsung perusahaan ini memiliki komitmen tinggi terhadap pemulihan lingkungan. Dari pengamatan sejak tahun 2023 hingga 2025, perkembangan reklamasi terlihat sangat progresif,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kemajuan tersebut terlihat dari dua aspek utama, yakni peningkatan luasan reklamasi setiap tahun seiring aktivitas tambang, serta semakin beragamnya jenis tanaman yang digunakan.

“Pada tahun 2023, jenis tanaman yang ditanam masih terbatas pada sengon dan sengon buto. Namun pada pemantauan terakhir November 2025, jenisnya sudah jauh lebih beragam, seperti bintangur, jabon merah, hingga cemara laut,” jelas Prof. Danu.

Keberagaman vegetasi tersebut dinilai penting untuk membangun kembali ekosistem yang lebih stabil dan mendekati kondisi alami kawasan.

Selain itu, praktik reklamasi PT GKP juga didukung hasil pemantauan ilmiah biodiversitas. Berdasarkan kajian yang dilakukan, tercatat sedikitnya 114 jenis tumbuhan yang menjadi basis referensi dalam pengelolaan lingkungan perusahaan.

“Data flora dan fauna ini sangat penting. Kami berharap 114 jenis tumbuhan tersebut dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam menentukan jenis tanaman reklamasi yang tepat,” katanya.

Prof. Danu juga mendorong peningkatan penggunaan tanaman endemik serta spesies dengan tingkat keterancaman tinggi sebagai bagian dari strategi konservasi jangka panjang.

“Perusahaan tambang diharapkan mampu memproduksi bibit tanaman lokal, termasuk spesies yang terancam, untuk ditanam kembali di area reklamasi. Apalagi PT GKP telah memiliki fasilitas nursery yang layak dengan produktivitas baik,” pungkasnya. (Rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here