Catatan Tiga Tahun Riset Biodiversitas Wawonii: Dorong Pengelolaan Lingkungan Berbasis Data

0

WAWONII – Di tengah perdebatan soal aktivitas pertambangan di pulau kecil, hasil pemantauan biodiversitas di Pulau Wawonii menunjukkan gambaran ekologis yang lebih kompleks dan tidak bisa disederhanakan dalam narasi hitam-putih.

Temuan tersebut disampaikan Peneliti Biodiversitas dari PT Erdas Dwi Konsultan sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Haluoleo (UHO), Prof. Faisal Danu Tuheteru. Ia memimpin langsung pemantauan biodiversitas darat dan laut di wilayah Wawonii Tenggara sejak 2023 hingga 2025.

“Secara ekologi, Wawonii merupakan pulau kecil yang unik. Dalam satu bentang wilayah, kita menjumpai ekosistem mangrove, hutan dataran rendah, hingga hutan ultramafik yang secara geologi kaya mineral. Kombinasi ini jarang ditemukan dan menjadikan Wawonii penting untuk dikaji secara ilmiah,” ujar Prof. Danu. Jumat (20/2/2026).

Indeks Keanekaragaman Stabil
Pemantauan dilakukan pada sejumlah titik yang merepresentasikan variasi penggunaan lahan serta aliran ekosistem dari hulu hingga pesisir. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman, kekayaan jenis, dan pemerataan spesies secara umum berada dalam kondisi stabil, bahkan meningkat di beberapa lokasi pengamatan.

Dari kelompok flora, tim mencatat keberadaan sejumlah tumbuhan endemik serta spesies yang masuk kategori terancam. Pada kelompok fauna, hampir seluruh jenis yang teridentifikasi merupakan endemik Sulawesi.
Khusus burung, tercatat 27 jenis burung endemik Sulawesi, dengan 16 di antaranya merupakan catatan baru (new record) yang sebelumnya belum pernah dilaporkan di Pulau Wawonii. Pada kelompok kelelawar, enam dari 11 jenis yang teridentifikasi juga merupakan temuan baru dibandingkan data penelitian terakhir hingga 2015 yang pernah diterbitkan oleh LIPI.

“Ini mengindikasikan bahwa biodiversitas Wawonii selama ini belum sepenuhnya terdokumentasi. Pemantauan jangka panjang penting bukan hanya untuk melihat perubahan, tetapi juga melengkapi basis pengetahuan ilmiah yang masih terbatas,” jelasnya.

Kualitas Lingkungan di Bawah Ambang Baku Mutu
Selain inventarisasi hayati, tim peneliti juga melakukan analisis kualitas lingkungan, meliputi air sungai, air laut, sedimen, serta kandungan logam berat pada biota ikan.
Hasil uji laboratorium menunjukkan seluruh parameter berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan regulasi nasional maupun standar internasional.

“Hasil analisis kami tidak menemukan sesuatu yang berarti dalam konteks pencemaran atau kerusakan lingkungan. Jadi, kondisi ekosistem di sana masih dalam ambang batas yang sangat aman,” kata Prof. Danu.

Ia menegaskan, temuan tersebut merepresentasikan kondisi pada periode dan lokasi pemantauan tertentu, sehingga pemantauan berkala tetap diperlukan untuk memahami dinamika jangka panjang ekosistem pulau kecil.

Kolaborasi Riset dan Reklamasi Berbasis Data
Menurut Prof. Danu, keberlanjutan pemantauan ini tidak lepas dari kolaborasi antara tim peneliti dan PT Gema Kreasi Perdana (GKP), perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah tersebut.

“Kegiatan pemantauan ini memang bagian dari program perusahaan, tetapi juga berkontribusi dalam mengungkap biodiversitas yang sebelumnya belum pernah dilaporkan. Data ilmiah ini penting agar pengelolaan lingkungan tidak berbasis asumsi,” ujarnya.

Data hasil identifikasi sekitar 114 jenis tumbuhan, lanjutnya, dapat menjadi dasar pemilihan jenis tanaman untuk kegiatan reklamasi lahan pasca-tambang.

“Reklamasi itu kewajiban. Yang penting adalah bagaimana reklamasi dilakukan. Ada jenis yang toleran untuk lahan terbuka, ada pula tanaman penghasil buah untuk mempercepat kembalinya fauna. Ke depan, kami berharap jenis-jenis endemik dan terancam bisa diintegrasikan dalam kegiatan reklamasi,” terangnya.

Environment & Forestry Superintendent PT GKP, Badrus Soleh, menambahkan bahwa hasil pemantauan biodiversitas menjadi rujukan utama dalam evaluasi dan perbaikan praktik pengelolaan lingkungan perusahaan.

“Ini bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tetapi memastikan pemulihan lingkungan dilakukan secara bertahap dan berbasis sains,” ujarnya.

Ia menyebut, kegiatan reklamasi menunjukkan perkembangan dari tahun ke tahun, baik dari sisi luasan maupun keragaman jenis tanaman. Persemaian (nursery) juga telah disiapkan untuk mendukung kebutuhan reklamasi jangka panjang.

Menjaga Keseimbangan Ekologi Pulau Kecil
Prof. Danu mengingatkan, tantangan utama pengelolaan Pulau Wawonii adalah menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan keberlanjutan ekosistem.

“Kita sepakat Wawonii adalah pulau kecil dengan daya dukung terbatas. Tapi kita juga harus ingat bahwa di sana terdapat sumber daya alam yang beragam. Tugas kita memastikan aktivitas ekonomi dan ekologi bisa berjalan bersamaan,” ujarnya.

Ia menekankan, keberlanjutan lingkungan tidak semata-mata ditentukan oleh ada atau tidaknya satu jenis aktivitas ekonomi. Tekanan terhadap ekosistem bisa datang dari berbagai arah, termasuk perubahan penggunaan lahan oleh masyarakat.

“Karena itu, kesadaran kolektif semua pihak dan peran generasi muda Wawonii menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pulau ini,” tambahnya.

Sejumlah warga pesisir Wawonii Tenggara juga mengakui adanya perubahan positif dalam praktik pemanfaatan sumber daya laut dalam beberapa tahun terakhir. Praktik penangkapan ikan merusak seperti penggunaan bahan peledak disebut semakin jarang ditemui.

“Sekarang sudah hampir tidak ada lagi yang pakai bom ikan di sekitar sini. Ada pengawasan dan sosialisasi, dan kami lebih paham bahwa laut harus dijaga supaya anak-cucu kami masih bisa melaut,” kata Hasanudin, warga Desa Dompo-Dompo Jaya. (Rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here